Asal Usul Desa Sadahayu

sdy2.jpeg

Kantor Desa Sadahayu

Tidak ada bukti tertulis tentang asal usul Desa Sadahayu. Tetapi dapat dipastikan bahwa Desa Sadahayu telah menjadi pemukiman yang jumlah penduduknya semakin bertambah seiring perjalanan waktu. Keterangan mengenai asal usul Desa Sadahayu yang dikemukakan oleh beberapa orang tua dihubungkan dengan tempat dan tokoh tertentu menurut beberapa versi.

Versi 1

Alkisah, ada sepasang suami istri yang sedang berteduh di lereng pegunungan (pegunungan tersebut kemudian di beri nama Kuku Rambut ), tiba-tiba tempat yang didudukinya berbunyi. Karena ketakutan sepasang suami istri tersebut bergegas meninggalkan tempat tersebut dan berangkat lagi ke Lereng pegunungan putri, tiba-tiba mereka berdua lenyap dan hanya terdengar suaranya yang memberitakan asal kejadian tadi. Tempat duduk tersebut akhirnya di beri nama Sadahayu.

Orang yang hilang tersebut muncul kembali dan menjelma menjadi seekor kambing gibas yang diberi nama Endang Kencana. Dari asal usul tersebut Desa kami memiliki mitos tidak diperbolehkanya penduduk setempat memelihara domba. Ada anggapan apabila ada warga yang melanggar aturan dalam cerita tersebut akan langsung terjadi bencana.

Kemudian domba tersebut menghilang lagi dan kemudian muncul lagi di dataran gunung putri dan berubah menjadi putri cantik dan diberi nama Raden Ayu Mas Kumambang. Sampai saat ini tempat munculnya tersebut menjadi tempat keramat di Desa Sadahayu ( Pasarean )

Versi 2

Pada zaman kerajaan Islam. Majenang merupakan tempat pendidikan para santri dan penyiar islam yang mengharapkan santrisantrinya mampu menjalani hidup sesuai dengan ajaran islam yang murni. Majenang ( Jenang) berasal dari kata jenang / makanan khas terbuat dari nasi ketan dan gula yang pembuatanya harus digodog.

Pada suatu waktu seorang ulama menyuruh santrinya untuk menuju ke arah utara menuju daerah pegunungan. Setelah menimba ilmu yang cukup lama diharapkan orang tersebut berjalan di arah yang “benar “( sekarang menjadi Desa Bener ) serta selalu menyembah kepada Sang Maha pencipta Allah SWT, memiliki jiwa tauhid/ tunggal. Sehingga santri tersebut memiliki sifat menyembah pada sifat tunggal (Allah Maha Esa) yang akhirnya di situ menjadi Desa Sepatnunggal.

Beberapa bulan kemudian santri tersebut diberi pilihan yang sangat membingungkan yaitu antara memilih harta dunia atau jalan yang lurus. Akhirnya setelah merenung beberapa hari santri tersebut memutuskan pergi ke arah yang banyak bambu ( Awi ) yang condong

ke arah barat. Sampai sekarang daerah tersebut dikenal dengan nama “Ciawi”. Menghadap ke barat diibaratkan dalam agama condong kearah kiblat yang berarti menyembah ( Sholat ) pada Allah. Adapun kecintaan terhadap dunia ( Bumi ) yang sampai sekarang terkenal dengan sebutan Desa Sadabumi.

Lama kelamaan setelah berjalan ke arah barat santri tersebut terluka di hutan belantara akibat tertusuk oleh ranting-ranting yang sangat tajam. Dan ia ingat akan petuah ulama tersebut, kalau luka harus diobati dengan sada ( Sirih ) yang masih muda ( Cantik ) dan diartikan sebagai sirih yang masih muda dan orang memanggilnya dengan sebutan Sada Ayu lama kelamaan menjadilah Sadahayu.

Sadahayu oleh ulama tersebut diartikan sebagai orang yang memiliki jiwa yang cantik/ayu bersih dari segala kotoran jasmani dan rohani. Akhirnya akan terlihat tembong ( Red- bahasa sunda ) artinya terlihat maka antara orang yang baik dan yang jahat akan selalu terlihat dimata tuhan yang Maha Kuasa dan akhiranya daerah yang dilalui santri tersebut diberi nama Tembong.

Sejarah desa sadahayu dapat dilihat juga dari masa kepemimpinan kepala desa yang dapat diuraikan sebagai berikut:

Tahun (1842-1869)                   : Surawijaya

Tahun (1870-1878)                   : Atma

Tahun (1879-1901)                   : Bangsa Wirana

Tahun (1902-1930)                   : Singa Rana/Penatus

Tahun (1931-1941)                   : Wiratma

Tahun (1942-1964)                   : Maryono

Tahun (1965-1966)                   : Karto Suwito / Pejabat Sementara

Tahun (1967-1988)                   : Sukirno

Tahun (1989-2007)                   : Kliwon Hadi Sudarmo

Tahun (2008-2014)                  : Paing Pramono

Tahun (2014-2016)                  : Sunardi (Pejabat Kepala Desa)

Tahun (2016 s/d sekarang)    : Raskim Mulyadi

Iklan
Dipublikasi di Internet | Meninggalkan komentar